Langsung ke konten utama

Untuk Kamu Yang Merasa Sendirian #bijakbestari

Bismillah.

Catatan ini ditulis untuk orang-orang yang merasa sendirian di bumi, nggak juga sih, orang-orang yang lagi butuh waktu sendiri juga. Dimanapun berada. Kemanapun arah yang dituju. Walaupun ramai sekitarnya, atau sepi suasananya, sendirian ternyata menyadarkannya untuk menjadi manusia yang utuh.

Bukannya apa-apa. Aku juga gitu, senang kalo lagi sendirian. Tapi bukan berarti aku hobinya menyendiri, menjauh dari bareng-bareng sama keluarga, teman. Bukan. Ini sendirian yang positif ya.

Kalo aku boleh cerita, jujur aku sering ninggalin hp dan dunia maya kalo udah selesai kerja dan masih punya waktu senggang cukup banyak. Aku sengaja sendirian motoran muterin kota, ke pelosok-pelosok desa, ke tengah sawah, naik bukit, atau tiba-tiba ngumpet di sela-sela lemari toko buku, terus tiba-tiba ada di masjid kampus. Mungkin bisa jadi aku tiba-tiba ada di depan rumah kamu ngasih martabak. Wkwk.

Enggak dong ah. Tapi gini ya, sendirian itu nggak cuma tertuju pada hal negatif. Seringkali kita diomongin kurang gaul, cuek, anti sosial lah, kalo lagi pengen banget butuh waktu sendiri. Kecuali kamu memang orang nya bener-bener pendiam dan menyendiri terus, nggak mau kenal orang sama sekali. Ini sih negatif ya, kamu nanti bakal kesulitan karena nggak pernah ngobrol minimal sama teman samping dudukmu. 

Tapi kalo ada alasan trauma masa lalu yang membuatmu menyendiri justru lebih baik, that's okay. Aku bisa paham, dan akan lebih baik lagi kalo kamu pun juga berkonsultasi ke ahli seperti psikolog, biar kamu merasa ada yang bisa diajak cerita dan mengerti kondisimu selain dirimu sendiri.

Namun, yang ingin aku tekankan dalam tulisan ini adalah, menyendiri untuk merenungi semua yg menjadi pertanyaan besar manusia. Siapa aku sebenarnya? Buat apa aku hidup di bumi? Apa yang terjadi setelah aku meninggalkan bumi?

Itu yang menjadi pertanyaan besar ku juga dalam satu tahun terakhir.

Setelah berkutat terlalu lama dalam pekerjaan yang nggak ada habisnya, menyelam terlalu dalam untuk mencari kesenangan dan kepuasan, dan anehnya, baru merengek minta ampun sama Allah kalo lagi kena musibah aja. Pas happy-happy, ya lupa. Pas lagi sehat wal afiat, ya cuma kurang dari satu detik dzikir habis sholat, pun yang paling sat-set, doa "Rabbana aatinaa fii dunya hasanah, wa fil 'aakhirati hasanah, waqinaa 'adzaaban naar" (re: doa sapu jagad kata pak dosen dulu :v ), tanpa pernah tahu apa yang harusnya aku dalami saat sedang berdoa, apakah aku sudah memohon ampun dulu sama Allah 'Azza wa Jalla, menyanjung Asma dan Sifat Nya, menyanjung Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alahi wasallam?

Iya nggak sih?

Baru-baru ini juga sebenernya, aku mikirin ini. Kok rasanya hidup jadi kayak terpaksa ya, terpaksa kerja, terpaksa sekolah, terpaksa jadi dewasa, terpaksa semuanya. Bahkan sempet mikir, tapi langsung aku buang jauh-jauh pikiran ini, bagaimana kalo jadi muslim pun juga terpaksa? Ya dulu kan dari lahir emang udah muslim, ngikut ajalah yang udah ada. Tapi tanpa pernah sempat mikir tiga pertanyaan besar tadi.

Seiring berjalannya waktu, dan seringnya curi waktu motoran sendirian keliling sawah, lihat-lihat gunung, naik-naik bukit, lihatin petani nanem padi, ganti musim jagung, ganti lagi musim padi, lihat petani-petani akrab satu sama lain, makan gedang sambil ngeteh dari ketel nya langsung, aku jadi banyak mikir. Kenapa hidupnya lebih bersahaja ya? Kenapa kayak nggak punya beban hidup, padahal mereka mungkin istilahnya cuma 'numpang ngarit' sawah milik orang lain? Atau ya cuma modal tenaga bantu petani lain pas panen, bantu nggerabah, bantu masuk-masukkin biji padi ke karung, tapi bersukacita. Istilahnya "nggayeng" kalo disini.

Dihitung pendapatan mah ya, bisa jadi cuma cukup buat sehari untuk satu keluarga. Tapi yang jadi perhatian ialah cara mereka bisa ikhlas sama apa yang bisa mereka perbuat. Itu yang jadi kuncinya. Ikhlas sama yang udah digariskan ke mereka, dan merasa cukup kalo itu adalah yang paling baik yang udah Allah sediakan.

Banyaknya pikiran manusia jaman sekarang selalu merasa kurang, kurang, dan kurang. Hitung-hitungan terus sama nikmat Allah, padahal kita kan hidup di bumi ini cuma berapa tahun, sih. Kalo dihitung sama dengan umurnya Rasulullah SAW, ya cuma 60an tahun. Aku sekarang udah 25, berarti sisa berapa tahun lagi di sini, kisaran 25-30 tahun lagi kan, belum kalo takdir nya Allah bilang kurang dari satu jam lagi. 
Terus udah apa aja yang kamu siapkan buat bekal bawaan pas pulang nanti?

Jangan sampai lah, kita baru sadarnya kalo ternyata waktu tersisa tinggal sehela nafas. Cepat selesaikan dulu persoalan masing-masing, tuntasin dulu bingungnya, punahin dulu rasa sombong dan berbangga diri. Sebisa mungkin jadi hamba Allah yang senantiasa mau taat, yang mau tinggalkan maksiat.

Besok-besok, kamu bakal berterima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk menyendiri, atau buat yang merasa sendirian, kamu tuh nggak sendiri. Ada Allah yang selalu nemenin kamu. Kamu bakal standing applause karena sudah menyediakan waktunya untuk sadar penuh secara akal, dan menyediakan hati untuk memahami lebih baik. Demi melihat kebenaran dan kebenaran yang terus berdatangan dari balik tabir gemerlapnya duniawi. 

1 Jumadil Awwal 1445H
-Sal-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara Persimpangan

Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat , mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.  Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan? Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba ...

Masa Berat dan Diantara Keduanya

Mungkin tulisan kali ini agak cukup menguras emosi, tapi aku yakin ini bisa diambil hikmah dan jadi pengingat untuk kita semua. Aku anak sulung dari 4 bersaudara. Anak pertama, perempuan. Sedari kecil, aku selalu merasa bisa sendiri. Terlalu mandiri. Aku nggak tahu apakah itu kemauanku sendiri secara naluri seorang kakak atau sebuah tuntutan? Adik pertama ku jaraknya nggak begitu jauh, hampir 2 tahun. Jadi bisa dibilang aku dan adik pertama seperti teman main bareng.  Waktu adik kedua ku lahir, usiaku 9 tahun. Seusia anak kelas 4 SD. Aku sebenarnya senang adikku lahir dan akan ada bayi di rumah, tapi yang aku mulai khawatirkan adalah aku bakal sering disuruh-suruh. Di satu sisi, aku merasa bertanggung jawab kalau diberi tugas rumahan, nyuci piring, jaga adik, tugas2 ringan sih, tapi di sisi lain aku merasa kesal. Kenapa aku yang lebih sering disuruh ketimbang adik pertamaku. Adik pertamaku laki-laki, memang, biasanya lebih susah menurut. Tapi namanya pikiran anak kecil, rasanya ngg...

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul. Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari. Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari ...