Setiap badai yang hadir menerjang kehidupan pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Masalah-masalah yang muncul tak serta merta datang bukanlah tanpa alasan. Mungkin kita tidak tahu apa maksud dibalik adanya masalah ini, namun, barangkali, ini baik untuk kita.
Itulah sebabnya Allah membatasi perihal gaib pada kehidupan manusia. Kita senantiasa 'dipaksa' hanya untuk berprasangka baik kepada Allah. Sulit? Jelas, kita hanyalah manusia yang akal dan daya jangkau waktunya terbatas. Kita maunya cepat rampung, namun hanya bisa memprediksi, mengira-ngira, merasakan sesuatu yang belum tentu itu yang terjadi. Bisa jadi kita membenci sesuatu yang ternyata baik untuk kita, sebaliknya, boleh jadi kita mencintai sesuatu yang ternyata buruk buat kita. Kita nggak pernah tahu hal-hal itu.
Lalu, bagimana dengan kalimat, "Allah sesuai dengan prasangka hambaNya?" Ini juga benar. Prasangka adalah sesuatu yang selama ini kita pikirkan sadar ataupun tanpa sadar dan bisa saja di tengah-tengah itu ada rapalan kecil kita yang terucap, tapi kita luput dengan itu. Bisa jadi baik, bisa jadi buruk pula yang keluar. Satu per satu pikiran dan ucapan itu terkumpul, menghasilkan banyaknya prasangka, dan, mudah saja bagi Allah memberikan apa yang telah kita pupuk selama ini.
Barangkali ini baik untuk kita, walaupun masih saja kita ingkari kebenaran itu. Kita anggap terlalu kecilnya kebaikan itu diantara gunungan masalah yang membebani. Ia seperti berteriak memanggil, "Hei, ada aku disini!" Sementara diri kita terus berkutat mencari solusi lain. Kesana kemari bertanya ini itu, mencari penyelesaian, atau mungkin, mencari pembenaran saja? Dasar, hati. Ada-ada saja.
Kebaikan senantiasa hadir tanpa harus dikasih undangan dahulu, selama kita, manusia sok tahu ini berserah padaNya. Mulailah menata masalah itu satu per satu, untuk kemudian diperhatikan dengan seksama, apakah ada kebaikan yang muncul dari ini atau tidak. Kita belajar mengerem dahulu, bertanya pada diri sendiri apakah jalan di depan sana membahayakan prinsip atau justru mempermudah, sebelum tancap gas untuk melangkah ke jalan berikutnya.
Perkara prasangka akan berdampak kepada hati. Prasangka buruk selalu membuat hati tertekan, tidak tenang, emosi tidak stabil. Di sisi lain, prasangka baik, membuat hati bisa meregulasi emosi dengan baik pula, muncul rasa tenang, dan kembali mengakui bahwa Allah yang memberikan semua kemelut pikiran dan perasaan ini. Ya, lagi-lagi ujungnya ke Allah, sih.
~13 Ramadhan 1446 H~
Komentar