Langsung ke konten utama

Barangkali, Ini Baik Untukmu #bijakbestari

Setiap badai yang hadir menerjang kehidupan pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Masalah-masalah yang muncul tak serta merta datang bukanlah tanpa alasan. Mungkin kita tidak tahu apa maksud dibalik adanya masalah ini, namun, barangkali, ini baik untuk kita.

Itulah sebabnya Allah membatasi perihal gaib pada kehidupan manusia. Kita senantiasa 'dipaksa' hanya untuk berprasangka baik kepada Allah. Sulit? Jelas, kita hanyalah manusia yang akal dan daya jangkau waktunya terbatas. Kita maunya cepat rampung, namun hanya bisa memprediksi, mengira-ngira, merasakan sesuatu yang belum tentu itu yang terjadi. Bisa jadi kita membenci sesuatu yang ternyata baik untuk kita, sebaliknya, boleh jadi kita mencintai sesuatu yang ternyata buruk buat kita. Kita nggak pernah tahu hal-hal itu.

Lalu, bagimana dengan kalimat, "Allah sesuai dengan prasangka hambaNya?" Ini juga benar. Prasangka adalah sesuatu yang selama ini kita pikirkan sadar ataupun tanpa sadar dan bisa saja di tengah-tengah itu ada rapalan kecil kita yang terucap, tapi kita luput dengan itu. Bisa jadi baik, bisa jadi buruk pula yang keluar. Satu per satu pikiran dan ucapan itu terkumpul, menghasilkan banyaknya prasangka, dan, mudah saja bagi Allah memberikan apa yang telah kita pupuk selama ini.

Barangkali ini baik untuk kita, walaupun masih saja kita ingkari kebenaran itu. Kita anggap terlalu kecilnya kebaikan itu diantara gunungan masalah yang membebani. Ia seperti berteriak memanggil, "Hei, ada aku disini!" Sementara diri kita terus berkutat mencari solusi lain. Kesana kemari bertanya ini itu, mencari penyelesaian, atau mungkin, mencari pembenaran saja? Dasar, hati. Ada-ada saja.

Kebaikan senantiasa hadir tanpa harus dikasih undangan dahulu, selama kita, manusia sok tahu ini berserah padaNya. Mulailah menata masalah itu satu per satu, untuk kemudian diperhatikan dengan seksama, apakah ada kebaikan yang muncul dari ini atau tidak. Kita belajar mengerem dahulu, bertanya pada diri sendiri apakah jalan di depan sana membahayakan prinsip atau justru mempermudah, sebelum tancap gas untuk melangkah ke jalan berikutnya. 

Perkara prasangka akan berdampak kepada hati. Prasangka buruk selalu membuat hati tertekan, tidak tenang, emosi tidak stabil. Di sisi lain, prasangka baik, membuat hati bisa meregulasi emosi dengan baik pula, muncul rasa tenang, dan kembali mengakui bahwa Allah yang memberikan semua kemelut pikiran dan perasaan ini. Ya, lagi-lagi ujungnya ke Allah, sih.

~13 Ramadhan 1446 H~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi novel "Sang Pangeran dan Janissary Terakhir"

Novel fiksi-sejarah buah karya Ustadz Salim A.Fillah dengan 631 halaman ini menceritakan sebuah perang paling berdarah di Nusantara yang terjadi berturut-turut pada tahun 1825-1830 M, ialah Perang Sabil atau sering disebut Perang Diponegoro. Awal tercetusnya Perang Sabil ini terjadi pada hari Rabu, 5 Dzulhijjah 1240 Hijriah, oleh pasukan Hussar Kavaleri Belanda yang menyerang Puri Tegalrejo, sebuah pendapa kediaman Sultan Kanjeng Pangeran Diponegoro. Kejadian perang tersebut berhubungan dengan perintah Daulah Utsmani Turki yang menyarankan agar orang timur yang melanjutkan perjuangan jihad melawan kaum kafir Eropa yang sedang menjajah. Orang timur yang dimaksud ialah Nusantara. Juga dikarenakan hutang sejarah yang dimiliki oleh Kesultanan Turki Utsmani kepada Nusantara yakni mengenai perdagangan rempah oleh Pasar Konstantinopel yang terbilang lebih mahal dibandingkan langsung dari pusatnya negeri rempah-rempah. Selain rempah, semangat orang Eropa untuk menyebarkan agama Kristen yang da...

Setelah 5 Tahun Berjuang, Apa Selanjutnya? JejakFisio#3

Aku memulai tulisan ini dengan, Selamat, Salsa sudah bertahan🫵 Jujur aja, lima tahun ini aku sangat tidak berekspektasi akan bertahan di Fisioterapi. Sambil menyelam minum air, aku bekerja sebagai Fisioterapis yang juga sambil memantau pendidikan adik2. Pagi sampai siang praktek, sore sampai malam jemput sekolah dan nge-tutor tugas ujian sekolah dua adik, begitu selama 5 tahun, and it's truly hard. Otakku ngebul, badanku remuk. Belum lagi, sangat diluar ekspektasi, tiba2 aku dipilih untuk me -manage tim terapis di klinik, atau aku sebut saja Apotek. Iya, aku bekerja selama 4 tahun ini (diluar 1 tahun visit) di salah satu Apotek yang perkembangannya sebenernya udah bisa dibilang kayak klinik. Tim ku, Fisioterapis, Okupasi Terapis, dan Akupunkturis, dimana aku ketua tim padahal aku baru lulusan D3. Aku harus memantau kondisi pasien yang kita tangani, promosi, juga mengatur kerjasama tim terapis dengan sekolah. Sampai sekarang alhamdulillah total ada 3 sekolah yang beke...