Langsung ke konten utama

Belajar Berqurban, Belajar Pengorbanan

Assalamu'alaykum👋

Kawan, gimana kabarnya hati ini? Eh, hari ini maksudnya, hehe, sehat-sehat yaa. Semoga dengan mendekatinya hari raya Idul Adha, Allah mampukan kita untuk belajar berqurban di tahun ini. Yang lagi nabung? Bagus banget, InsyaAllah niatnya sudah tercatat sampai pada tahun berikutnya. Semangatt.

Nah, ngomong-ngomong tentang Qurban, kali ini aku dapet insight menarik dari salah satu Ustadz yang expert banget membahas Idul Adha dan Idul Qurban. Sebenernya apa sih Idul Adha itu? Qurban itu apa dan bagaimana sih? Yuk kita bahas bareng-bareng.

Idul Adha itu adalah hari raya qurban. Kata "Adha" sendiri memang artinya adalah qurban. Yang menarik, di dalam surat Al-Kautsar itu disebutkan kata "Nahr" dari ayat ke 3 "Fasholli li rabbika wanhar", artinya juga qurban. Nah ada juga yang menyebutkan bahwa Idul Adha juga bisa disebut dengan "Id An Nahr" atau hari qurban/penyembelihan. Tapi, di dalam bahasa arab ternyata antara kata "Adha" dan "Nahr" sendiri keduanya merupakan kata sinonim, karena sama-sama artinya Qurban. Yang membedakan ialah konteks maknanya, kalau "Nahr" itu artinya Qurban secara fisik, ada hewan sembelihannya, ada orang yang menyembelihnya, sedangkan kata "Adha" konteksnya lebih kepada makna pengorbanan seseorang. 

Lalu merujuk pada surat Al-Hajj ayat 37, bahwa ternyata Allah pun sudah menjelaskan maksud dari makna Qurban, kalau seseorang telah melaksanakan qurban maka yang sampai kepada Allah bukanlah "Lahm" atau daging, dan "Dimaa' " atau darah dari hewan sembelihannya, melainkan yang sampai ialah ketaqwaan seseorang yang dengan ikhlas dan berlapang hati menaati perintah Allah dalam menyisihkan harta dan kepemilikannya untuk berqurban, itulah makna aslinya dari proses berqurban.

Soalnya aku tahu persis yang namanya berqurban itu rasanya berat, bener deh, kalo ternyata keadaannya uang lagi pas-pasan di kantong. Mungkin juga ternyata ada hal lain yang lagi kepengen banget buat beli, eh pas uangnya mau dipake, ternyata papasan waktunya mau Idul Adha. Emang paling bener nabung sih mentemen, jadi udah tahu banget ini uangnya khusus buat Qurban, dan gaboleh dipake buat apapun selain itu. Kejadiannya di aku nggak gitu, lebih tepatnya ini ada duit yang kepepet banget, gaskeun qurban wkwk. Tapi ini konteks beratnya karena memang belum mampu secara duit ya, kalo sebenernya mampu tapi hatinya yang nggak, nah ini yang perlu dipertanyakan, hayooo. Ohiya, secara hukum berqurban itu Sunnah Muakkadah, jadi Sunnah tapi bagi yang udah mampu diutamakan mengerjakan ya.

Tapi lagi-lagi, memang proses itulah yang Allah lihat gimana kelapangan hati kita buat berqurban. Dan sebenernya ini ada kaitannya dengan rasa berat orang-orang yang sedang haji di tanah suci. Jadi memang Allah itu Maha Adil, orang yang berhaji sedang merasakan beratnya proses haji, kita pun yang belum diundang Allah untuk berhaji, juga menikmati proses beratnya berqurban. Sama-sama proses yang berat, tapi Allah nilai semua itu atas dasar kelapangan hati saat menaati ketentuan yang sudah Allah perintahkan.

Ini bener-bener belajar pengorbanan yang real ya, ternyata memang begitu cara Allah melembutkan hati kita, menyadarkan kita kalo harta yang kita miliki ada hak lainnya yang perlu dikeluarkan untuk para yatim dhuafa. Mengajarkan ke diri kita tentang makna bersyukur dan berbagi ke sesama. Ohiya for your info, selama tinggal di jogja, asli bener-bener dah, ini emang orang-orangnya yang ringan harta semua apa gimana, jadi setiap lebaran Idul Adha hampir di semua rumah selama sebulan itu mesti ada stok daging qurban. Sepengetahuanku sampe panti2 asuhan itu membludak juga daging qurban dari masjid2 sekitar saking banyaknya yang ikut qurban. MasyaAllah.

Semoga ini jadi pengingat buat kita2 para gen-z sekalian, kalau lagi kelebihan harta barang 2 juta-3 juta, bolehlah belajar disisihkan untuk qurban. Itung-itung latihan mengorbankan harta yang biasanya nggak dimanfaatkan dengan baik. Jangan mengorbankan perasaan mulu yaa, upss

Selamat 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ya, Kawan. Jangan lupa tgl 9 Dzulhijjah puasa sunnah👍

-4 Dzulhijjah 1445 H-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara Persimpangan

Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat , mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.  Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan? Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba ...

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul. Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari. Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari ...

Amatir

  Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast  utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit. Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya? Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai.  "Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau." "Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih." Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terken...