Langsung ke konten utama

Kembali Pulang


Salam, Teman.

Alhamdulillah, aku bersyukur sekali Allah masih izinkan untuk menulis disini lagi. Setelah berlalu bulan atau tahun aku mencoba berbagai platform menulis, tetap aku selalu bisa lepas menulis hanya disini. Mungkin karena usianya? Mungkin karena banyaknya memori rasa? Beruntung aku memulainya dari sini, dari Salsa yang masih polos dengan dunia, sampai sekarang yang sudah merasakan getar getirnya, pahit manisnya, segala ujian dan nikmat, semuanya ternyata membuatku menjadi manusia yang utuh. 

Aku kembali pulang kesini, karena ada yang sedang ingin ku hidupkan kembali, yaitu hati. Berbagai percobaan menulis, menyampaikan pesan, berkisah, bernarasi, namun yang aku rasakan hanyalah permintaan untuk dipuji dan dikenal, pun dibalik itu ternyata aku hanya menginginkan pendapatan dari sesuatu yang aku sukai. Aku mengotori kejernihan ungkapan hati. Dan, aku malu dengan sikapku sendiri.

Aku memulai tahun 2025 untuk kembali. Qadarullah, akun instagram milikku terkena banned/tidak difungsikan lagi oleh platform. Yang mana akun itu terhubung dengan profil menulisku lainnya, salah satunya blog ku ini. Aku terputus dengan kegiatan di instagram, dan yang membuatku kecewa adalah tidak bisa lagi menyuarakan 'negeri yang barokah' itu secara intens. Yang tersisa kini adalah akun instagram yang aku kelola saja, salah satunya akun tentang fisioterapi ibu dan anak. Oh iya, kalo berkenan, mari kunjungi akunnya, @oemmafisioterapi ya.

Tapi banyak hal baik yang aku rasakan juga sekarang. Aku lebih fokus di dunia nyata. Aku lebih intens untuk melakukan pekerjaan, di rumah ataupun saat praktek. Aku lebih banyak mengobrol dengan orang di rumah, sama tetangga, pedagang yang lewat depan rumah, bahkan sekarang sering dikunjungi kucing gembul milik tetangga depan. Dunia maya memang jaringan pertemanannya bisa menjangkau luas, bahkan aku sampai kenal dengan satu sister dari 'negeri yang barokah' itu. Tapi ternyata, aku merasa itu menjauhkanku dengan orang-orang yang di sekitarku. Menjauhkan aku dengan diriku sendiri. Aku menjadi abai dan acuh dengan sekelilingku. Ternyata, cukup buruk dampak yang aku rasakan.

Jadi, ya sudah. Aku memilih untuk mengawali semuanya lagi dari sini. Sambil sesekali aku baca kembali tulisan-tulisan lama, aku perbaiki lagi kata-kata yang kurang relevan, bonusnya, aku jadi belajar menulis yang baik dan lebih baik lagi dari sini. Alhamdulillah.

Ditunggu ya, tulisan-tulisan selanjutnya. See you.

-Bantul, 9 Ramadhan 1446 Hijriyah-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara Persimpangan

Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat , mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.  Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan? Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba ...

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul. Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari. Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari ...

Amatir

  Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast  utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit. Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya? Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai.  "Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau." "Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih." Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terken...