Langsung ke konten utama

Amatir

 



Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit.

Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya?

Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai. 

"Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau."

"Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih."

Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terkenal seniornya kritis dan nyelekit. Aku sering dimarahi di depan pasien langsung gara-gara lupa nama otot yang aku tunjuk. Tapi, dari situ justru aku mulai tergerak dengan terpaksa biar kedepannya jangan lagi sering dimarahi. Mau nggak mau aku harus belajar dan buka-buka buku dulu sebelum jam praktek dimulai.

Persis dengan yang dialami para dokter residen tahun pertama ini, tentu mereka lebih berat bebannya karena jenjangnya dokter spesialis. Mereka jadi orang pertama yang menentukan pasien ini mau di sembuhkan seperti apa, keselamatan pasien dibawah tekanan mereka, reputasi mereka juga dipertaruhkan. Anyway, disini aku nggak mau bahas drama tersebut atau curhat masa lalu, disini aku mau bahas soal amatir, atau hal-hal pertama kali yang belum diketahui yang menentukan.

Sebagai manusia yang bersosial kita akan menemukan hal-hal pertama kali dalam kehidupan. Pertama kali berjalan, pertama kali ke sekolah, pertama kali ujian, ada banyak hal pertama kali yang terus memupuk menjadi diri kita saat ini. Hal pertama kali itu menunjukkan kalau diri kita sebenarnya percaya untuk mampu melakukannya. Ada sesuatu yang berkembang dalam diri, yaitu tantangan. Persoalannya, ada beberapa hal yang bisa jadi kita sudah tahu informasinya, bisa lewat buku, pengalaman, lingkungan, jadi kita bisa melakukannya dengan baik tanpa hambatan. Di sisi lain ada juga hal-hal tak terduga yang jelas kita belum tahu bagaimana melakukannya. 

Misalnya aku sebagai waktu masih jadi mahasiswa fisioterapi, aku belum pernah menangani pasien secara langsung karena selama kuliah baru belajar teori dan praktek dengan teman sendiri. Yang namanya pertama kali bertemu pasien langsung, mungkin akan sedikit grogi, takut salah, bicaranya nggak teratur, nggak tenang, dan aku semakin merasa nggak percaya diri karena selalu dimarahi senior. 
Berbeda saat aku disuruh menjelaskan kasus, Nyeri akibat HNP (Hernia Nucleus Pulposus) misalnya, aku sangat mudah jelasin runut terminologi, patologi dan treatment nya apa, karena selama kuliah sering diulang-ulang dan sering baca teks jurnal. Bisa dilihat, kan, perbedaannya?

Seorang amatir akan bisa jadi profesional kalau sering terlibat didalamnya. Apapun. Makannya aku heran dengan para senior, kenapa enteng banget menghina junior yang masih belum tahu apa-apa. Dulu, para senior-senior ini asalnya juga sama-sama dari junior, yang masih amatiran itu. Sampai sekarang pun aku merasa nggak berhak menghina yang buruk-buruk ke bawahan karena dulu aku pun pernah merasakan hal yang sama. Adapun teguran yang sifatnya menasihati, toh akan jauh lebih mudah dilakukan dan tidak perlu menguras energi. 

Bagi kalian yang masih seorang amatir, tenang aja, masih banyak yang belum dicoba untuk kalian pahami, dan kalian nggak sendirian. Ingat, dulu seniormu itu juga pernah jadi junior sepertimu, yang penting mau terus berusaha memperbaiki diri dan berusaha jadi diri sendiri, itu sudah lebih baik dari apapun. Tahun pertama adalah tahun belajar, bukan tahun dimana kalian sudah bisa semuanya, jadi ya, nikmati aja.

Aku harap kasus bullying pun sudah nggak relevan lagi buat sekarang, itu adalah cara jadul yang membuat semua orang sengsara, termasuk para pelakunya. Bullying nggak akan pernah diterima oleh semua orang, termasuk yang membully, apakah mereka mau di bully? kan, nggak. 

Menjadi amatir justru titik awal yang sangat menentukan masa depan. Paling tidak, kita akan merasa berharga dan bangga karena telah melewati titik terendah yang dulu rasanya sulit dan buru-buru ingin menyerah. Jangan lupa, ada Allah yang senantiasa kasih jalan mudah lewat doa, lewat shalat, nanti rasanya pikiran dan langkah kaki terasa jauh lebih ringan daripada biasanya. Yakin, deh.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Barangkali, Ini Baik Untukmu #bijakbestari

Setiap badai yang hadir menerjang kehidupan pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Masalah-masalah yang muncul tak serta merta datang bukanlah tanpa alasan. Mungkin kita tidak tahu apa maksud dibalik adanya masalah ini, namun, barangkali, ini baik untuk kita. Itulah sebabnya Allah membatasi perihal gaib pada kehidupan manusia. Kita senantiasa 'dipaksa' hanya untuk berprasangka baik kepada Allah. Sulit? Jelas, kita hanyalah manusia yang akal dan daya jangkau waktunya terbatas. Kita maunya cepat rampung, namun hanya bisa memprediksi, mengira-ngira, merasakan sesuatu yang belum tentu itu yang terjadi. Bisa jadi kita membenci sesuatu yang ternyata baik untuk kita, sebaliknya, boleh jadi kita mencintai sesuatu yang ternyata buruk buat kita. Kita nggak pernah tahu hal-hal itu. Lalu, bagimana dengan kalimat, "Allah sesuai dengan prasangka hambaNya?" Ini juga benar. Prasangka adalah sesuatu yang selama ini kita pikirkan sadar ataupun tanpa sadar dan bisa saja di tengah-tenga...

Resensi novel "Sang Pangeran dan Janissary Terakhir"

Novel fiksi-sejarah buah karya Ustadz Salim A.Fillah dengan 631 halaman ini menceritakan sebuah perang paling berdarah di Nusantara yang terjadi berturut-turut pada tahun 1825-1830 M, ialah Perang Sabil atau sering disebut Perang Diponegoro. Awal tercetusnya Perang Sabil ini terjadi pada hari Rabu, 5 Dzulhijjah 1240 Hijriah, oleh pasukan Hussar Kavaleri Belanda yang menyerang Puri Tegalrejo, sebuah pendapa kediaman Sultan Kanjeng Pangeran Diponegoro. Kejadian perang tersebut berhubungan dengan perintah Daulah Utsmani Turki yang menyarankan agar orang timur yang melanjutkan perjuangan jihad melawan kaum kafir Eropa yang sedang menjajah. Orang timur yang dimaksud ialah Nusantara. Juga dikarenakan hutang sejarah yang dimiliki oleh Kesultanan Turki Utsmani kepada Nusantara yakni mengenai perdagangan rempah oleh Pasar Konstantinopel yang terbilang lebih mahal dibandingkan langsung dari pusatnya negeri rempah-rempah. Selain rempah, semangat orang Eropa untuk menyebarkan agama Kristen yang da...

Setelah 5 Tahun Berjuang, Apa Selanjutnya? JejakFisio#3

Aku memulai tulisan ini dengan, Selamat, Salsa sudah bertahan🫵 Jujur aja, lima tahun ini aku sangat tidak berekspektasi akan bertahan di Fisioterapi. Sambil menyelam minum air, aku bekerja sebagai Fisioterapis yang juga sambil memantau pendidikan adik2. Pagi sampai siang praktek, sore sampai malam jemput sekolah dan nge-tutor tugas ujian sekolah dua adik, begitu selama 5 tahun, and it's truly hard. Otakku ngebul, badanku remuk. Belum lagi, sangat diluar ekspektasi, tiba2 aku dipilih untuk me -manage tim terapis di klinik, atau aku sebut saja Apotek. Iya, aku bekerja selama 4 tahun ini (diluar 1 tahun visit) di salah satu Apotek yang perkembangannya sebenernya udah bisa dibilang kayak klinik. Tim ku, Fisioterapis, Okupasi Terapis, dan Akupunkturis, dimana aku ketua tim padahal aku baru lulusan D3. Aku harus memantau kondisi pasien yang kita tangani, promosi, juga mengatur kerjasama tim terapis dengan sekolah. Sampai sekarang alhamdulillah total ada 3 sekolah yang beke...