Langsung ke konten utama

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul.

Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari.

Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari kecil sampai remaja jadi anak yang ambis, di kuliah aku justru terbilang santai belajarnya. Kayaknya aku capek jadi anak ambis hehe, pengennya ya menikmati proses belajar selama kuliah aja. Target pun sebetulnya nggak muluk-muluk, yang penting lulus tanpa nilai C, itu ya udah Alhamdulillah.

Alasannya karena aku merasa kuliah itu justru jadi proses pengembangan diriku yang sebenarnya. Kalau mungkin dari SD sampai SMA aku mempelajari bahan dasar dan aku harus paham level dasar itu, maka kuliah adalah masanya aku naik ke level berkembang. Aku selalu berpikir kalau kuliah itu prosesnya panjang, bahkan efeknya sampai setelah lulus. Karena disitulah pembuktian apakah aku cukup paham dan bisa mengaplikasikan hasil kuliahku ke jenjang berikutnya, atau tidak?

Jujur aku selalu kagum dengan orang yang terus melanjutkan pendidikannya hingga tingkat tertinggi. Bukan cuma dilihat dari titel, tapi komitmennya yang tinggi untuk terus mau belajar. Dia bersedia meluangkan waktu lebih banyak untuk ilmu pengetahuan, bersedia untuk berkali-kali ditolak idenya, bersedia jatuh bangun mencari bahan penelitian. Karena nggak mudah untuk terus bertahan dengan tumpukan buku teks serta catatan di setiap waktu. 

Namun, yang sangat disayangkan adalah begitu mudahnya saat ini orang-orang memalsukan tingkat pendidikan hanya untuk mengejar titel. Ia menjual gelar profesor hanya untuk pendapatan yang lebih banyak, atau segelintir si kaya yang sogok-menyogok agar bisa masuk ke sekolah atau kampus prestisius. Padahal ada banyak orang yang berusaha sekali untuk kuliah, mungkin dari segi biaya, kesempatan, atau kemampuan belajar yang masih belum memadai. 

Kita perlu terus mengaca diri kembali apa sih yang sebenarnya kita lakukan. Apakah upaya yang kita lakukan sejalan dengan apa yang diniatkan. Kecuali ya kalo niatnya dari awal emang jelek udah beda lagi, sih. Tapi dibalik itu, akan tetap ada orang-orang yang sampai sekarang sangat berusaha hanya untuk bisa sekolah atau kuliah. Masa kita sepelekan hak-hak belajar kita karena dari awal niatnya sudah jelek, untuk kemudian meremehkan mereka yang berjuang bertahun-tahun? Apa nggak keterlaluan?

Melihat fenomena yang luar biasa menguras pikiran itu, cukup memunculkan lagi keinginanku untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Alasannya sederhana, setidaknya aku bisa menjadi salah satu orang yang berusaha menghormati ilmu dari niat yang sungguh-sungguh, caraku mendapatkan ilmu sampai aplikasinya untuk kebermanfaatan.

Semoga terealisasikan, Sa. Mulai dulu dari yang paling sederhana.

- Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah 5 Tahun Berjuang, Apa Selanjutnya? JejakFisio#3

Aku memulai tulisan ini dengan, Selamat, Salsa sudah bertahan🫵 Jujur aja, lima tahun ini aku sangat tidak berekspektasi akan bertahan di Fisioterapi. Sambil menyelam minum air, aku bekerja sebagai Fisioterapis yang juga sambil memantau pendidikan adik2. Pagi sampai siang praktek, sore sampai malam jemput sekolah dan nge-tutor tugas ujian sekolah dua adik, begitu selama 5 tahun, and it's truly hard. Otakku ngebul, badanku remuk. Belum lagi, sangat diluar ekspektasi, tiba2 aku dipilih untuk me -manage tim terapis di klinik, atau aku sebut saja Apotek. Iya, aku bekerja selama 4 tahun ini (diluar 1 tahun visit) di salah satu Apotek yang perkembangannya sebenernya udah bisa dibilang kayak klinik. Tim ku, Fisioterapis, Okupasi Terapis, dan Akupunkturis, dimana aku ketua tim padahal aku baru lulusan D3. Aku harus memantau kondisi pasien yang kita tangani, promosi, juga mengatur kerjasama tim terapis dengan sekolah. Sampai sekarang alhamdulillah total ada 3 sekolah yang beke...

Barangkali, Ini Baik Untukmu #bijakbestari

Setiap badai yang hadir menerjang kehidupan pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Masalah-masalah yang muncul tak serta merta datang bukanlah tanpa alasan. Mungkin kita tidak tahu apa maksud dibalik adanya masalah ini, namun, barangkali, ini baik untuk kita. Itulah sebabnya Allah membatasi perihal gaib pada kehidupan manusia. Kita senantiasa 'dipaksa' hanya untuk berprasangka baik kepada Allah. Sulit? Jelas, kita hanyalah manusia yang akal dan daya jangkau waktunya terbatas. Kita maunya cepat rampung, namun hanya bisa memprediksi, mengira-ngira, merasakan sesuatu yang belum tentu itu yang terjadi. Bisa jadi kita membenci sesuatu yang ternyata baik untuk kita, sebaliknya, boleh jadi kita mencintai sesuatu yang ternyata buruk buat kita. Kita nggak pernah tahu hal-hal itu. Lalu, bagimana dengan kalimat, "Allah sesuai dengan prasangka hambaNya?" Ini juga benar. Prasangka adalah sesuatu yang selama ini kita pikirkan sadar ataupun tanpa sadar dan bisa saja di tengah-tenga...

Amatir

  Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast  utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit. Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya? Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai.  "Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau." "Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih." Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terken...