Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat, mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.
Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan?
Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba dan persaingan supaya membentuk kepercayaan diri, mengasah kemampuan otak supaya cerdas seperti Enstein. Seringkali orangtua adu IQ anak-anak sejak belia, mana anak yang paling tinggi badannya, mendoakan agar si anak bisa jadi dokter atau tentara, kalau bisa, sih, dua-duanya.
Tapi dua hal yang sering luput dari mata kita, dan mungkin orangtua kita adalah karakter dan empati. Sebetulnya, ini yang paling dibutuhkan anak saat mereka dewasa nanti. Masing-masing anak akan memiliki karakter yang berbeda dan bagaimana nanti orangtua melihat potensi yang ada tanpa harus membandingkan. Menjadi anak yang peduli, berbicara lugas, percaya diri, dan pandai bersikap dimulai dari orangtua yang menjadi contoh dan juga percaya dengan potensi anak. Kecerdasan dan akademik berada di urutan terakhir kalau kita pernah mempelajari Piramida Pembelajaran. Sense atau "Rasa" lah yang paling awal kita ajarkan.
Otak manusia memulai pelajaran pertamanya dari Indera. Ya, Indera. Melihat segala sesuatu yang dipandang, mendengar, mencium, merasakan gerak, menyentuh, semua menjadi pondasi penting otak dan saraf berkembang. Seiring berkembangnya usia, melatih kemampuan dari potensi jadi penting demi lebih banyak input yang masuk ke otak. Jadi bukan 'ujug-ujug' anak usia 3 tahun langsung bisa berpikir seperti orang dewasa ya, tahap perkembangan ini juga perlu proses dan harus dilewati.
Pada akhirnya, sebagai manusia dewasa bentukan masa kecil, kita akan selalu dihadapkan dengan persimpangan. Kita punya pilihan dan pilihan-pilihan itu bermula dari apa yang sudah orangtua berikan ke kita. Bentukan sikap dan pola pikir, pola asuh, apapun yang sudah orangtua lakukan ke kita terserap dan jadi diri kita hari ini. Jadi, pertimbangan pilihan yang kita temui selalu ada cukup andil dari orangtua dan patut kita syukuri walaupun itu termasuk dari kebaikan ataupun keburukan mereka. Toh, mereka juga manusia bentukan kakek-nenek kita yang sifatnya bisa jadi bermacam-macam, kan.
Pilihan-pilihan yang baik itu pula semoga bisa jadi wasilah kebaikan apapun tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Semoga bisa jadi amal kebaikan yang kita bawa di akhirat kelak.
Amin.
Komentar