Mungkin tulisan kali ini agak cukup menguras emosi, tapi aku yakin ini bisa diambil hikmah dan jadi pengingat untuk kita semua.
Aku anak sulung dari 4 bersaudara. Anak pertama, perempuan. Sedari kecil, aku selalu merasa bisa sendiri. Terlalu mandiri. Aku nggak tahu apakah itu kemauanku sendiri secara naluri seorang kakak atau sebuah tuntutan? Adik pertama ku jaraknya nggak begitu jauh, hampir 2 tahun. Jadi bisa dibilang aku dan adik pertama seperti teman main bareng.
Waktu adik kedua ku lahir, usiaku 9 tahun. Seusia anak kelas 4 SD. Aku sebenarnya senang adikku lahir dan akan ada bayi di rumah, tapi yang aku mulai khawatirkan adalah aku bakal sering disuruh-suruh. Di satu sisi, aku merasa bertanggung jawab kalau diberi tugas rumahan, nyuci piring, jaga adik, tugas2 ringan sih, tapi di sisi lain aku merasa kesal. Kenapa aku yang lebih sering disuruh ketimbang adik pertamaku. Adik pertamaku laki-laki, memang, biasanya lebih susah menurut. Tapi namanya pikiran anak kecil, rasanya nggak adil.
Adik ketigaku lahir waktu aku di pesantren. Jarakku dengan si bungsu lumayan jauh, 15 tahun. Aku sudah mau masuk SMA. Sama si bungsu aku jarang diberi tugas karena hari-hariku di pesantren. Sesekali ketemu kalau pas penjengukan. Masuk liburan, aku sudah tahu akan diberi tugas dua kali lipat dibanding waktu adik keduaku lahir karena aku dinilai sudah cukup dewasa. Dibanding dulu, aku memang sudah mahir apapun untuk urusan rumah karena terbiasa di pesatren apa-apa harus sendiri. Tapi, tetap aja dalam hati, rasanya selalu aku yang disuruh lebih banyak.
Tahun 2017, Abi terkena serangan jantung. Waktu itu tahun dimana aku lagi menikmati masa kuliah. Mau nggak mau aku harus ajukan cuti kuliah sekitar seminggu untuk mengurus keperluan rumah dan bolak-balik ke RS. Terbiasa Abi yang antar jemput pakai motor atau mobil, rasanya timpang karena harus naik kendaraan umum atau minta tolong tetangga setiap hari. Tapi, di titik ini aku mulai nggak peduli lagi dengan adil atau nggak adil, aku mulai merasa sepenuhnya tanggung jawab sebagai anak sulung karena dalam hati aku sudah membayangkan kemungkinan terburuk kedepannya. Alhamdulillah, Abi berangsur pulih seperti sedia kala setelah 2 pasang ring membuka sumbatan jantungnya.
Sayangnya, di titik itu pula aku melupakan konsekuensinya.
Tahun 2019, Ummi terkena Kanker tulang bekakang. Rasanya aku seperti disambar petir di siang bolong. Waktu itu aku pun lagi sibuk-sibuknya praktek lapangan dan tugas akhir kuliah. Adik ku yang pertama mau kelulusan SMA, adik kedua mau kelulusan SD, dan si bungsu mau masuk SD. Dari jauh di Jakarta, aku nggak bisa membayangkan rasanya jadi Abi. Pasti berat, sangat berat sekali. Rasanya di tengah-tengah kesibukan tugas dan praktek ku, aku ingin sekali mundur. Rasanya aku sangat nggak bertanggung jawab atas urusan rumah karena Ummi dibawa ke Pekalongan. Di titik terberatku ini aku menjadi aneh sendiri. Rasanya aneh karena pertama kalinya aku sama sekali nggak berguna di rumah.
Sebab kanker yang semakin ganas pun, Ummi berpulang ke rahmatullah setelah aku selesai kuliah.
Selepas Ummi dimakamkan, aku lega karena aku tetap bertanggung jawab menyelesaikan kuliahku. Namun, rasanya hati tersayat-sayat mengingat aku ga ambil peran banyak saat semuanya sedang berjuang di masa terberat. Aku lihat Abi tatapannya kosong. Adik pertamaku mengurung diri, adik keduaku masih menangis di kamar sambil sesekali ke dapur karena lapar, si bungsu, aku belum paham apa yang dia rasakan karena masih terlalu kecil. Yang jelas kuingat, waktu jenazah Ummi dibaringkan di ruang tengah, si bungsu sama sekali nggak mau lewat ruangan itu, kalau mau ke kamar atau ke dapur harus memutar lewat samping rumah. Mungkin takut atau gimana.
Aku yang melihat semua itu jadi bingung apa yang akan terjadi ke depannya. Aku merasa tanggung jawabku jadi bertambah puluhan kali lipat daripada waktu SMA. Apa aku bisa kerja? Apa bisa lanjut kuliah lagi? Di penerbangan keluargaku kini sayapnya tinggal 1, apa masih bisa terbang dengan stabil?
Alhamdulillah Allah kasih kesempatan untuk kami bertahan walaupun jalannya nggak mudah, sama sekali.
Adik pertamaku kuliah, adik keduaku SMP, si bungsu SD yang berkali2 pindah. Selama itu, aku dengan sekuat tenaga bekerja dengan pikiran kebutuhan si bungsu. Urusan semuanya masih harus dipenuhi karena dia belum berpengalaman apapun. Dengan lambat tapi pasti, selepas bekerja aku harus mengurus si bungsu. Dari kelas 1 sampai dia kelas 6. Aku tahu ini seharusnya bukan tanggung jawabku, tapi aku nggak tega karena si bungsu sudah dekat denganku. Aku menahan semua keinginan bekerja tetap atau kuliah lagi, demi si bungsu dan urusan rumah.
Mungkin kalian yang membaca ini rasanya sebal atas kelakuanku karena terlalu memaksa diri. Aku pun, akhir-akhir ini baru menyadari dan juga sama-sama ikut sebal. Karena konsekuensi dari terlalu bertanggung jawab ini aku jadi harus lebih tahu apapun, lebih cerewet dengan urusan sepele, lebih memendam impianku, lebih pasrah dan ga mau berusaha. Parahnya, adik-adikku juga jadi lebih ketergantungan denganku dan aku nggak mau itu terjadi terus-menerus. Aku selalu mengurusi adik-adikku, tapi aku lupa sama diri sendiri. Aku nggak bertanggung jawab sama aku. Aku jadi menahan semuanya di akhir seperti bom waktu yang mau meledak.
Tapi, aku yang melihat lagi diriku sebelum ini cukup berterima kasih atas keputusanku dulu yang mau tetap bertanggung jawab walaupun diriku babak-belur. Aku kini lebih rasional, bahwa aku juga manusia biasa. Nggak mungkin semua hal aku yang bertanggung jawab karena masing-masing sudah punya porsinya. Semakin mendekati kepala tiga, aku juga tetap mengukir impian-impian ku sendiri kedepannya. Tentang aku mau jadi apa sesudah ini, aku masih terus berusaha mewujudkannya.
Jadi, perlahan aku melepas cengkraman tanggung jawab berlebihan itu. Adik-adikku juga kini sudah mulai bisa menata diri sendiri, jadi apalagi yang harus aku urusi. Aku hanya cukup memantau dan menemani, bukan lagi mengurusi semuanya seperti dulu. Masa berat itu juga akan selalu jadi upayaku untuk terus maju kedepan menghadapi rintangan kehidupan berikutnya.
Komentar