Langsung ke konten utama

Semangka!! Semangat Kaka

Belakangan ini dunia lagi dikejutkan dengan datangnya wabah virus corona, atau biasa disebut Covid-19, yang menyebabkan kematian hampir jutaan manusia di seluruh dunia. Ngeri ya. Virus itu sendiri berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok, yang menyerang saluran pernapasan manusia (malah ada sebagian kasus yg juga menyerang saluran pencernaan) tergantung nyamannya si virus itu berinang dan berkembang biak. Pertama kali tau dan liat berita virus itu lagi marak2nya disana lewat twitter, liat video orang lagi di tengah jalan tiba2 jatuh, terus nggak sadarkan diri. Abis itu dateng petugas kesehatan pake APD (alat pelindung diri) lengkap dan nge-gotong orang itu masuk ke ambulans yang langsung dibawa ke rs setempat. Liat video itu aku panik dalem hati, kalo virusnya sampe ke Indonesia gimana ya? Pas itu masih sekitar bulan Januari (kalo gasalah). Aku jadi sering liat twitter buat update berita wabah Covid-19, soalnya liat berita di tv pas itu belum sedetail kayak di twitter.

Terus, sampe awal bulan Maret, wabah virus tersebut udah menyebar ke banyak negara di dunia, termasuk Malaysia yang jadi negara tetangga. Kan deket banget sama Indonesia, tapi kok belum ada kabar korban positif di Indo. Antara deg2an sama seneng sebenernya. Deg2an jangan2 emang udah ada korban sebenernya, tp belum di publish di berita, atau nggak ketauan kalo udah ada atau banyak yang kena, juga seneng Alhamdulillah berarti emang wabah virusnya nggak sampe Indo, atau juga mungkin orang Indo kebal daya tahan tubuhnya hehe. Eh, nemu vlognya dr. Nadhira di Youtube lagi bahas Indonesia belum ada kabar korban yang terpapar wabah virus, yang didiskusikan bareng salah satu professor dari Harvard University. Nah dari situ justru aku malah kepikiran mungkin aja di Indonesia sebenernya udah ada yang terpapar tp belum terdeteksi.

Memang waktu pas awal2 munculnya wabah Covid-19 di Wuhan, pemerintah belum mencanangkan physical distancing, pake masker tiap keluar rumah, selalu cuci tangan atau bawa hand sanitizier kemana2. Tapi aku sendiri (karena takut kalo tiba2 terpapar) berinisiatif langsung ngelakuin itu semua, gara2 aku hampir tiap hari keluar rumah karena kerja di rs yang disitu resiko terpaparnya tinggi. Menurutku ya sebelum orang2 di sekitar kita, lingkungan kita, atau negara yang kita tinggali berkoar dengan kabar wabah mulai masuk menyerang, kita harus inisiatif sendiri buat waspada dari terpaparnya wabah tersebut. Lagipula, itu bukan sesuatu yang harus dipaksa baru dilakukan, udah harus jadi kebiasaan sehari2 biar jadi pribadi yang bersih aja kan, ya kan, ya nggak.

Sekitar pertengahan bulan Maret, baru ada kabar positif kena Covid-19 di Indo, baru gempar banget dan berita2 di tv jadi highlight yang masih anget banget. Padahal udah hampir satu dunia punya korban yang terpapar, tapi kesannya kayak ada hal baru yg baru banget menimpa Indonesia. Hmm gimana ya, kenapa gitu nggak dari jauh2 hari pas pertama di Wuhan ada wabah, di Indo udah duluan mencanangkan tiga pencegahan penting yg tadi, atau minimal hand hygiene dan pake masker, sama satu lagi, tutup semua akses bandara dan pelabuhan sedari bulan Januari, itu semua pencegahan yang seharusnya udah sigap dijalankan. Gregetan sih asli tapi ya mau gimana lagi, sekarang juga udah terlanjur kejadian, udah banyak korban juga baik dari petugas kesehatan juga dari masyarakat, dan Alhamdulillah udah banyak yang sembuh juga. Mudah2an bisa ditularkan sembuhnya ke yang masih menderita.

Intinya, aku ngerasa prihatin sama keadaan di masa pandemi gini, terutama sasaran empuknya yaitu petugas kesehatan sama masyarakat menengah ke bawah. Ohiya satu lagi juga masyarakat menengah ke bawah yang jadi pedagang, nah mereka2 inilah yang jadi korban sebenarnya, mereka semua kewalahan, sedih, dan bingung harus gimana karena mereka yang paling menderita. Makannya, yok lah buat aku, kamu, kita semua yang masih dikasih nikmat banyak sama Tuhan, apalagi petugas pelayan negara yang memang udah tugasnya melayani negara, bantu mereka semua, entah lewat do'a, bingkisan sembako, pakaian, uang, bahan makanan, atau bahkan sebotol air minum pun gapapa asalkan ikhlas berbagi. Yok, gausah di publikasi juga gapapa, asal niat utama bersedekah, nanti pahala yang di dapet melimpah ruah, syukur Alhamdulillah. Yok semangatin diri sendiri, mereka, kita, siapapun dimanapun, dengan satu teriakan Semangkaa!! Semangat kaka😉

~Efek pengen nulis lagi selama #dirumahaja akibat pandemi Covid-19

Regards,
Sal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara Persimpangan

Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat , mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.  Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan? Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba ...

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul. Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari. Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari ...

Amatir

  Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast  utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit. Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya? Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai.  "Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau." "Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih." Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terken...