Langsung ke konten utama

Dilema Nakes 'newbie' di Era Pandemi Covid19

Assalamu'alaikum, Kawan. Gimana kabarnya? Sehat?

Siang ini pikiranku agak penuh setelah ngobrol dan diskusi via WA dengan Budhe (kakak perempuan Ibu). Sebenarnya, pikiran ini sudah lama bersarang semenjak aku mengobrol sama teman SMA yang beberapa juga jadi Nakes (Tenaga Kesehatan) sekarang, juga adik tingkat (yang tahun lalu baru lulus) di kampus.

Mmm, sebentar. Enaknya mulai dari mana ya hehehe.

Jadi gini, kami semua sebagai Nakes baru, atau yang kusebut sebagai Nakes 'newbie', adalah lulusan tahun 2019-2020-2021. Disini aku mencoba berkaca ke tenaga fisioterapi (soalnya aku fisio, hehe). Setelah lulus kuliah pasti kita excited banget dong sama nyari gawe/kerja. Apalagi yang masih freshgraduate dan masih lumayan banyak dicari oleh instansi tertentu. Belum lagi skill dan ilmu yang udah nggak bisa ditampung sendiri dan ingin segera ditumpahkan ke masyarakat yang butuh kemampuan kita. Ya, pengalaman dan terjun langsung ke khalayak umumlah juru kuncinya.

Tapi, di tahun tersebut juga ternyata kami kena 'cipratan' nasibnya. Nggak ada yang menyangka jika kami, para Nakes 'newbie' mengalami kesulitan saat mencari pengalaman kerja di masa pandemi. Mungkin untuk tahun 2019 masih terbilang mudah, tapi bagi lulusan tahun 2020-2021, apa kabar? 

Beberapa temanku ada yang bilang begini, "Loker, sih, sebenernya ada. Cuma, aku takut banget masih gagap nanganin pasien. Bayangin aja, kemaren kita di stop buat praktek kompre (praktek ke rs/klinik), terus disuruh pulang ke rumah. Ya, jadinya baru lulus sidang doang, prakteknya mah belum lulus wkwk." "Iya, gue udah lulus sidang ya Alhamdulillah, cuma gue mikir aja pas Koass nanti, soalnya kabarnya gue sama temen- temen nanti Koass nya online. Lah, susah dong nggak punya pengalaman praktek yang kontak langsung sama pasien."

Sejak itu aku mikir lama, sekarang aja Nakes di Indonesia sudah pada kewalahan nanganin pasien covid, belum pasien kasus yang lainnya juga. Nggak bakal bertahan lama mereka kerja banting tulang dan pasti butuh Nakes baru buat ada yang menggantikan. Masalahnya, Nakes baru aja sekarang nggak  punya pengalaman praktek karena di stop tadi. Terus kalau langsung dihadapkan dengan kasus yang mereka aja gemetar nanganinnya, gimana nanti kondisi pasien selanjutnya. Aduh, aku nggak mau bayangin, deh.

Yang banyak terjadi sekarang adalah para Nakes 'newbie' ini luntang-lantung kebingungan, masa depan mereka suram, padahal bisa jadi tadinya mereka udah siap banget terjun langsung ke lapangan. Apa daya, pengalaman kurang, peluang kerja juga merasa nggak mampu berperang.

Gimana kalo lanjut kuliah dulu, toh daring ini. Bisa jadi persiapan buat tahun-tahun berikutnya?

Betul. Itu adalah rencana b yang udah tersusun rapi dan amat jelas arahnya buat kedepan. Pokoknya selama masih pandemi aku pengen isi dengan kuliah online, banyak- banyakin belajar lagi. Tapi tiba-tiba merasa ada yang nggak biasa dengan kuliah di jenjang sebelumnya. Lho, kuliah praktikkum nggak ada:"(

Sami mawon tho, Jeng.

Itulah kenyataannya saat ini. Para Nakes 'newbie' ini sedang dilanda dilema berkepanjangan. Merasa "Gue tiga-empat tahun kuliah masa hasilnya cuma bengang-bengong aja, scroll instagram sampe paling bawah. Pengalaman nggak punya, apalagi penghasilan. CV mentok itu-itu aja" Sedihlah pokoknya, iya kan.

Setelah dilema panjang yang nggak ada ujungnya, eh, tunggu dulu. Kawan, musibah ini ternyata masih ada ujungnya.

Inget nggak, dulu pas kuliah pernah nyicip matkul promkes, iya bener, promosi kesehatan. Itu, itu penting banget buat di lakukan di masa sekarang. Pasti pernah ikut kuliahnya, kan, walaupun dulu matkul itu rasanya nggak penting penting amat. Nah terus, pada punya medsos kan, IG, Twitter, FB, Telegram, Whatsapp, situs Blog? Bahkan sms pun ada pasti, kan? Itu, Kawan. Coba kalian gali lewat situ. Ambil tindakan lewat promosi dan pencegahan. Bisa, kan? Bisa, dong. Keahlian editing kalian pasti terasah di zaman medsos begini. Apalagi yang suka nge-edit foto, posting gambar aesthetic, bikin tulisan, quotesminiblog, ah, banyak banget, deh.

Mereka semua bisa bantu kita biar nggak menganggur karena nggak mampu nanganin pasien. Coba kita ubah sedikit jalan pikiran kita, jaman sekarang orang sakit tuh udah banyak banget. Apalagi yang sakitnya karena penyakit tidak menular (jantung, stroke, diabetes, kanker, dll), itu bisa dicegah, kok, seharusnya. Asahlah otak kiri dengan kreativitas kita, bikin poster, brosur, pamflet kecil-kecilan, miniblog, yang diisi dengan promosi kesehatan sesuai bidangnya masing-masing. 

Kalo bisa, sih, kasih batasan misal hal-hal yang sekiranya bisa dilakukan di rumah. Kalo fisioterapi biasanya ngasih pr rumahan ke pasiennya, nah itu bisa dialihkan pakai poster kecil-kecilan biar menarik. Tentunya juga dengan batasan disclaimer karena nggak bisa jadi rujukan diagnosa medis/fisioterapi karena pada dasarnya itu hanya sebuah ajakan pencegahan, bukan pengobatan. Kalo mau berobat, ya langsung konsultasi ke pihak yang berwenang.

Dengan begitu, peran kita termasuk besar untuk menekan tingginya angka kejadian sakit dan penyakit, bukan. Kita juga bisa terus ikut andil (walaupun ini sifatnya relawan/keinginan diri sendiri) buat profesi yang kita udah perjuangkan kuliahnya, biar nggak rugi-rugi amat. 

Maka, sekarang cobalah beralih ke ranah promosi dan preventif/pencegahan yang jarang banget banget banget di aplikasikan sejawat sekalian. Paling yang pakai ya sejawat bidang kesehatan masyarakat. Tapi kenyataanya, dokter, perawat, nutrisionis, apoteker, bidan, apalagi fisioterapis yang sebenarnya punya empat ranah tindakan (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif), bisa banget dipake, kan. Nggak cuma kuratif/pengobatan dan rehabilitatif aja. Kalo bagian itu doang yang digeluti, ya sebenernya makin banyak yang sakit, nggak, sih.

Satu lagi, semua usaha promosi dan preventif kesehatan yang sudah kita rancang, buat, dan sebar bakal percuma. Iya percuma kalo kita sendiri, tenaga kesehatannya sendiri juga nggak mau ikut andil menggerakan atau menjadi contoh. Coba pikir, orang lain nggak bakal nge-gubris kalau kita sebagai Nakes juga nggak aktif bergerak, nggak kasih contoh. iya, kan?

Semoga aja ini bisa jadi solusi buat kita, para Nakes 'newbie' yang masih dilema gegara terjebak di era pandemi yang nggak selesai-selesai. Harapannya, sih, udahan pandeminya, kita berdamai aja hehehe. Dan mulai banyak yang sadar pentingnya hidup sehat, mulai banyak yang ikut sosialisasi kesehatan, mulai banyak yang bergerak dan kasih perubahan di bidang kesehatan, biar nggak banyak yang sakit. Hidup para pejuang Nakes, baik longbie maupun newbie!

-Sal

Nb : mulai ajakan ini dari sekarang. Titik. Bisa dibagikan ke yang lain, wahai para Nakes newbie yang butuh pencerahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Barangkali, Ini Baik Untukmu #bijakbestari

Setiap badai yang hadir menerjang kehidupan pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Masalah-masalah yang muncul tak serta merta datang bukanlah tanpa alasan. Mungkin kita tidak tahu apa maksud dibalik adanya masalah ini, namun, barangkali, ini baik untuk kita. Itulah sebabnya Allah membatasi perihal gaib pada kehidupan manusia. Kita senantiasa 'dipaksa' hanya untuk berprasangka baik kepada Allah. Sulit? Jelas, kita hanyalah manusia yang akal dan daya jangkau waktunya terbatas. Kita maunya cepat rampung, namun hanya bisa memprediksi, mengira-ngira, merasakan sesuatu yang belum tentu itu yang terjadi. Bisa jadi kita membenci sesuatu yang ternyata baik untuk kita, sebaliknya, boleh jadi kita mencintai sesuatu yang ternyata buruk buat kita. Kita nggak pernah tahu hal-hal itu. Lalu, bagimana dengan kalimat, "Allah sesuai dengan prasangka hambaNya?" Ini juga benar. Prasangka adalah sesuatu yang selama ini kita pikirkan sadar ataupun tanpa sadar dan bisa saja di tengah-tenga...

Resensi novel "Sang Pangeran dan Janissary Terakhir"

Novel fiksi-sejarah buah karya Ustadz Salim A.Fillah dengan 631 halaman ini menceritakan sebuah perang paling berdarah di Nusantara yang terjadi berturut-turut pada tahun 1825-1830 M, ialah Perang Sabil atau sering disebut Perang Diponegoro. Awal tercetusnya Perang Sabil ini terjadi pada hari Rabu, 5 Dzulhijjah 1240 Hijriah, oleh pasukan Hussar Kavaleri Belanda yang menyerang Puri Tegalrejo, sebuah pendapa kediaman Sultan Kanjeng Pangeran Diponegoro. Kejadian perang tersebut berhubungan dengan perintah Daulah Utsmani Turki yang menyarankan agar orang timur yang melanjutkan perjuangan jihad melawan kaum kafir Eropa yang sedang menjajah. Orang timur yang dimaksud ialah Nusantara. Juga dikarenakan hutang sejarah yang dimiliki oleh Kesultanan Turki Utsmani kepada Nusantara yakni mengenai perdagangan rempah oleh Pasar Konstantinopel yang terbilang lebih mahal dibandingkan langsung dari pusatnya negeri rempah-rempah. Selain rempah, semangat orang Eropa untuk menyebarkan agama Kristen yang da...

Setelah 5 Tahun Berjuang, Apa Selanjutnya? JejakFisio#3

Aku memulai tulisan ini dengan, Selamat, Salsa sudah bertahan🫵 Jujur aja, lima tahun ini aku sangat tidak berekspektasi akan bertahan di Fisioterapi. Sambil menyelam minum air, aku bekerja sebagai Fisioterapis yang juga sambil memantau pendidikan adik2. Pagi sampai siang praktek, sore sampai malam jemput sekolah dan nge-tutor tugas ujian sekolah dua adik, begitu selama 5 tahun, and it's truly hard. Otakku ngebul, badanku remuk. Belum lagi, sangat diluar ekspektasi, tiba2 aku dipilih untuk me -manage tim terapis di klinik, atau aku sebut saja Apotek. Iya, aku bekerja selama 4 tahun ini (diluar 1 tahun visit) di salah satu Apotek yang perkembangannya sebenernya udah bisa dibilang kayak klinik. Tim ku, Fisioterapis, Okupasi Terapis, dan Akupunkturis, dimana aku ketua tim padahal aku baru lulusan D3. Aku harus memantau kondisi pasien yang kita tangani, promosi, juga mengatur kerjasama tim terapis dengan sekolah. Sampai sekarang alhamdulillah total ada 3 sekolah yang beke...