Langsung ke konten utama

Jejakfisio #2


Ruang 301, Gd. Moh. Yamin, UPN Pondok Labu - Mata Kuliah Kewarganegaraan

Adalah ruang kelas yang pertama kali ku duduki. Kesan pertama, seneng plus grogi wkwk. Karena pertama kalinya lagi *setelah enam tahun nggak pernah sekelas bareng laki-laki, aku kikuk parah. Tapi lama-lama b aja sih.

Biasa, buat pemanasan kuliah semester 1 nggak langsung berat, tapi njelimet karena kewarganegaraan a.k.a KWN ini dari jaman sekolah udah anti banget. Dosen pengampunya namanya Pak Ali, dosen rasa eyangkung asli mirip banget mbah kakung tapi versi lincah. Bayangin aja, umur 70an tapi masih gesit naik turun tangga 3 lantai, giliran mahasiswanya muda-muda tapi badan serasa usia 70an wkwk. Sangat berkesan dengan pak dosen satu ini.

Selain KWN, yah masih basic lah matkulnya. Bahasa indo inggris, agama (sesuai agama masing-masing), budaya kesehatan, termasuk juga ada anatomi sama fisiologi yang agak berat. Eh, fisioterapi ada matkul anfis?

Ada dong, fisioterapi kan nanganin gerak dan fungsi tubuh manusia. Anatomi Fisiologi (Anfis) ya wajib kudu mesti ada. Nanti semester selanjutnya mulai menjurus ke matkul patologi, pemeriksaan fisioterapi (kepake banget sampe kerja, ya jelas lah), komunikasi kesehatan, ekonomi kesehatan, ilmu biomekanik, psikologi kesehatan, elektroterapi, terapi latihan, manual terapi, statistik dan evidence based fisioterapi (modal paling penting buat nyusun KTIA) dan berujung ke fisioterapi komprehensif (kasus muskuloskeletal (otot tulang dan jaringan sekitarnya), neuromuskular (otot dan saraf), cardiopulmonal (jantung paru), pediatri (anak), geriatri (lansia), dan olahraga).

Matkulnya agak mirip kedokteran? ya memang wkwk. Bedanya kita nggak mendalami ilmu bedah, histologi, farmakologi, tapi kita tetep belajar tipis-tipis tentang obat-obatan, belajar baca hasil rontgen, ekg, ct-scan, mri, dan sejenisnya. Belajar juga tentang ambulasi dan kawan-kawannya yang anak OP/Orthose Prothase punya (pemakaian kruk, AFO, dll) dan tata letak ruangan yang anak desain interior punya (biasanya kasus geriatri especially buat yg punya pasien penderita stroke mesti kepake banget).

Kadang aku pun sampe kewalahan pengen bisa semuanya sekaligus selama 3 tahun (sebab kuliah d3) tapi apalah daya otakku yang nggak mampu menyerap semuanya. Dan yang jadi jurus pamungkasku adalah nyicil sedikit-sedikit, kuasai satu matkul baru lanjut ke matkul yang lain. Pahamin satu teknik, aplikasikan, baru pindah ke teknik yang lain dan jelas sekali metode belajarku alon-alon asal nglakon hohoho. 

Namun ternyata, salah satu dosenku bilang kalo kita, as a physiotherapist, nggak mungkin akan ahli di semua bidang dan teknik, mesti salah satu karena kapasitas otak kita yang terbatas. Misal dokter, kalau mau mendalami di satu bidang misalnya bedah, ya fokus menjadi spesialis bedah, pun nanti ada spesialisasinya lagi misal bedah saraf, yaudah dia ngutak-ngatik nya ya di bedah bagian saraf, nggak ke THT atau ke onkologi. Sama fisioterapi juga gitu, kita akan hanya fokus pada spesialisasi tertentu aja. Ada yang bidang muskuloskeletal spesialisasi nyeri misal, atau ada yang bidang pediatri spesialisasi kasus cerebral palsy misal, dan sebagainya. Ya dia akan ahli di bidang tersebut karena di fokus di masalah itu aja, nggak kemana-mana. Maka nggak heran kalau ditanya diluar bidang spesialisasinya mungkin agak bingung atau paham tapi secara umum aja, nggak bisa spesifik. Karena fisioterapi juga manusia, jadi harap maklum ya.

Oke balik lagi ke kuliah, yah pokoknya tiga tahun kuliah banyak naik turunnya, ada aja masalahnya, selalu deg-deg an kalo udah mau lihat IP semester, selalu excited kalo lagi praktikkum, selalu ngantuk dan nyiapin permen frozz kalo lagi bahas teori di kelas (dan permen itu bisa langsung habis sekejap setelah digilir dari yang duduk di barisan depan sampe barisan tengah wkwk), selalu bag big bug kalo mau presentasi, dan selalu dengerin radio kalo lagi nugas di kosan dan kontrakan wkwk. Jadi kangen :')

Terus prepare KTIA dan praktek di lahan (rs dan klinik) ya sama lah kayak orang dikejar deadline skripsi pada umumnya, sama-sama bikin hectic bin panic. Tapi, ya dinikmati aja karena sudah waktunya aku angkat kaki dari kampus. Terus sidang, KKN yang penuh drama (nanti kapan-kapan aku cerita), wisuda, sumpah profesi, terus habis sumpah profesi ternyata masih ada ujian lagi, uji kompetensi (UKOM) *padahal setengah ilmu selama kuliah udah kabur entah kemana Ya Allah :( tapi alhamdulillah aku lulus UKOM dan bisa dapet sertifikat kompetensi dan STR (Surat Tanda Registrasi) - nah yang ini penting buat nyari kerja mwehehe.

Kira-kira itulah pengalaman kuliahku yang di tulis nggak seberapa daripada kenyataannya hohoho, next akan ada jejakfisio#3 kelanjutan pasca lulus. Bye!

Nb: KTIA re; Karya Tulis Ilmiah Akhir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara Persimpangan

Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat , mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.  Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan? Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba ...

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul. Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari. Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari ...

Amatir

  Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast  utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit. Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya? Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai.  "Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau." "Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih." Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terken...