Langsung ke konten utama

Caraku Berkomunikasi #jurnalramadhan1444H

Bismillah.

Karena mood menulisku muncul di waktu yang tepat saat bulan ramadhan, maka kujadikan momentum ramadhan kali ini buat aktif nulis lagi di blog.

Okeh. Markimul, mari kita mulai.

Disini aku nulis random aja ya, yang lagi terlintas di kepala aja kutuang kesini.

Sesuai judul, aku pengen share bagaimana sih caraku berkomunikasi sama orang lain, entah individu, keluarga, bahkan masyarakat. Yang padahal dasarnya aku ini salah satu tipe manusia yang kalo belum diajakin ngobrol ya gabakal ngobrol, alias diem-diem bae, hehehe.

Jadi dulu, waktu kecil aku punya sedikit trauma yang mungkin terbawa sampai usia anak-anak. Aku waktu masih bayi dulu sempat dan hampir saja jadi korban penculikan anak, entah sama preman atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang kehilangan sosok anak. Singkat cerita, aku yang lagi tidur di kasur diambil gitu aja sama orang ga dikenal, ummi ku teriak minta tolong bahkan hampir pingsan tarik-tarikan sama preman atau ODGJ tadi. Dan secara tiba-tiba, tringgg, mendadak orang itu sadar dia habis ngambil anak orang, dia yang hampir dipukulin warga, segera bungkuk-bungkuk minta maaf ke ummi, lalu langsung kabur menghindari amukan massa. Aku juga nggak tau kalau pernah ada kejadian begini kalau ngga diceritain hehehe. Tapi yang jelas, selama menjalani usia toodler aku selalu ngumpet kalau ketemu orang yang ga ku kenal *padahal kadang itu tuh cuma pakdhe budhe atau om tante atau sepupu. 

Ya begitulah. Alhasil, aku jadi orang yang pendiam dan nangis rewel aja kalau lagi nggak mau dan nggak nyaman.

Berulang-ulang kali aku harus dikenali sama yang selain di rumah, biar terbiasa berinteraksi sama yang lain. Jadilah proses itu mulai dibentuk dari ngikut kemanapun ummi pergi, mau ke pasar, masjid, arisan, pengajian, barulah sampe aku masuk sekolah tk dan sd, ummi mulai melonggarkanku ngikutin beliau.

Sebagai gantinya, ternyata ummi punya strategi baru di sekolah. Setiap kali daftar sekolah, mau itu tk atau sd ummi ku selalu titip pesan ke wali kelas yang mendampingi, "Salsa tolong diajak untuk tampil ke depan, apapun acaranya, nangis juga nggak apa-apa."

Drama nangis, sampe kabur dari sekolah ke rumah, udah semua. Guru-guru juga hampir lepas tangan, nyerah. Tapi ummi tetep kekeuh, "Lagi ya, Bu, Salsa diajakin. Walaupun awal-awal sulitnya minta ampun, tapi lama-lama nanti mau juga."

Entah itu bujuk rayu macam apa atau do'a dengan istilah yang lain, ajaibnya bener semua. Lama-lama ya aku mungkin bosen juga nangis mulu, ikutin ajalah kali-kali, eh ternyata ketagihan pengen tampil terus di depan umum.

Sama halnya tk, sd, begitu juga smp dan sma, walaupun udah di pesantren yang seharusnya udah dilepasin aja gitu ya terserah gurunya, tetep ummi ngasih pesan yang sama, "Salsa tolong diajakin," dengan kata tambahan, "Sama dipantau," menunjukkan bahwa aku remaja agaknya mulai nyari jati diri, yang pengennya ngikutin kemauan sendiri.

Barulah saat kuliah, aku langsung yang ditodong sama ummi, udah besar, bisa mandiri, udah punya tanggung jawab, gabisa lagi minta tolong dosen buat diajakkin tampil, wkwk yakali, pokoknya terserah inisiatif sendiri dengan bekal ajaran rumah sejak dini. Modal sosialisasi jaman sma sebenernya cukup buatku mau lebih banyak berinteraksi, tapi lagi-lagi aku tetep minder kalau ketemu orang baru, apalagi lingkungan yang lebih umum.

Nah, baru saat kuliah juga aku punya teman yang cukup beragam. Yang baru kusadari itu sangat membantuku dalam mengolah bahasa dan kata, cara menyampaikan sesuatu, sampai caraku berkomunikasi dengan dosen, semuanya ternyata mengubah pola bicara dan penyampaianku.

Ditambah lagi jurusanku yang termasuk pelayanan kesehatan, mau nggak mau ketemu banyak pasien dong, dari anak-anak sampai orangtua, laki-laki atau perempuan, beragam suku dan bahasa, semuanya menambah olah kata dan juga jadi pelajaran penting buatku berkomunikasi.

Sederhananya, cara berkomunikasi itu menurutku ya cuma dua, ada kemauan sama pembiasaan. Kalau ogah-ogahan, nggak sering diasah, di praktekkan, ya bakal kikuk terus ketemu orang. Aku jadi bersyukur juga sih jadi tenaga kesehatan terlebih fisioterapi yang udah pasti banyak ketemu beragam manusia dengan segala keunikannya. Walaupun sampai sekarang masih terus dan terus belajar dan masih on progress, aku berharap itu jadi anak tangga untuk naik level ke tingkatan proses komunikasiku yang selanjutnya.

Kalau versi kalian, gimana? Coba share di kolom komentar ya😁






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara Persimpangan

Ada masanya kita akan tiba di sebuah persimpangan. Memilih salah satu untuk meninggalkan yang lain. Membuat keputusan untuk kemungkinan akan ada yang dikorbankan. Lucunya, perasaan lega dan berat bersisian disini. Kata "Akhirnya," akan bersanding dengan, "Walaupun," untuk pertama kalinya setelah menimbang-nimbang mana yang lebih manfaat ketimbang mudarat , mana yang lebih disepakati daripada ditolak, walaupun sama-sama dipenuhi oleh kebaikan.  Diantara kita ada yang selalu memikirkan langkah kedepan, supaya tidak ada yang terbebani nantinya. Ada juga yang waspada dengan langkah besar, terlalu takut gagal dan menjadi omongan orang. Ada yang didorong oleh orangtua supaya jadi sukses dengan kerja keras, bangun hubungan sosial, tapi lupa menjalin hubungan anak dan orangtua. Dinamika yang kita hadapi sebenarnya terlalu kompleks, hingga membuat kita bingung mana yang seharusnya aku akui dan perlu dilakukan? Waktu kecil, kita sering dilibatkan pada lomba-lomba ...

Jadi Pembelajar Sejati

Sedari kecil aku sangat suka sekolah. Semangat sekali membawa tas punggung, seragam rapi, dan bersepatu. Selalu menanti-nanti hal apa yang akan ibu bapak guru ajarkan di kelas. Selalu tertarik dengan kegiatan praktek, menanam tanaman obat, membuat telur asin, membalut luka, membuat listrik dari baterai, apapun itu. Aku akan berusaha dalam sepekan setidaknya 5 hari full masuk tanpa absen. Atau 6 hari tambah ekskul. Mulai menginjak remaja, aku merasa sekolah menjadi tempat bersaing. Aku melihat teman sekelasku adalah lawan yang harus di kalahkan, hehehe maaf aku harus bilang begitu. Karena aku menganggap temanku yang lain pun demikian melihatku. Target ranking harus 3 besar, bahkan harus menjadi yang pertama. Aku giat sekali mempelajari berbagai mata pelajaran. Apalagi waktu itu aku di asrama, aku dan teman-teman hampir selalu bersama 24 jam. Jadi aku tahu bagaimana dan kapan temanku belajar sehari-hari. Masuk ke jenjang perguruan tinggi aku merasa diriku berubah haluan. Kalau dulu dari ...

Amatir

  Baru-baru ini lagi trending drama korea "Resident Playbook", dimana cast  utama nya adalah para dokter residen di tahun pertama dengan berbagai huru-haranya. Empat karakter dokter ala Gen Z yang bekerja hampir setiap hari dibawah tekanan para dokter senior, mengingatkan aku waktu masih jadi mahasiswa praktek komprehensif dan tahun pertama kerja di instansi rumah sakit. Pikiranku waktu pertama kali bertemu pasien adalah, Aku harus mulai dari mana ya? Begitu nggak tahu apa-apanya aku waktu hands on pertama kali dengan pasien, langsung di tegur kepala ruangan juga senior begitu selesai.  "Cara kamu komunikasi sama pasien jangan begitu, kurangi kata-kata "Oke" ke pasien yang lebih tua, nggak etis tau." "Kamu harusnya perkenalkan diri dulu, jangan langsung tanya keluhan, gitu aja kok nggak ngerti, sih." Dulu, aku juga merasa sebal karena selalu disalahkan, dikit-dikit jangan, dikit-dikit nggak boleh. Belum lagi di salah satu rumah sakit yang terken...